• nilakandi 23w

    Gelandangan

    Begitulah orang menyebutku.
    Ketika ku mendekat, tatapan sinis mereka membuat hatiku teriris.
    Tak jarang hardikan dan dorongan kasar mendarat di tubuhku yang tak begitu besar.

    Aku anak gelandangan.
    Sehari-hari ku panggul karung di punggung.
    Ku kumpulkan sampah-sampah dalam karung.
    Kemudian ku tukar dengan sedikit uang untuk mengisi perut yang sering kali kosong.

    Aku anak gelandangan.
    Aku tidak bangga.
    Ini juga tidak pernah ku pinta.
    Aku bekerja bukan meminta-minta.
    Hidup ini memang susah, namun ada harapan di dada yang membuncah.
    Kelak, tumpukan sampah itu akan merubah lelahku menjadi anugerah.
    ©nilakandi